Minggu, 14 Februari 2021

Manajemen Majlis Taklim dan Pemberdayaan Perempuan

 MANAJEMEN DAKWAH PADA MAJLIS TAKLIM DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Oleh : H.Ahmad Musodik

Balai Diklat Keagamaan Bandung

indisav172@gmail.com

 

Abstract

The problem in this research is how the dakwah management is applied to majlis taklim and how is majlis taklim activities in empowering women? This study aims to determine the application of dakwah management in majlis taklim and majlis taklim activities  in empowering women. This research is a field research with a qualitative descriptive approach. The object of this research is majlis taklim Ar-Ridwan Garut Kota. The data collection technique is done by using interviews, questionnaires, observation and documentation study. The results showed that the dakwah management has been implemented in this majlis taklim and in its activities this majlis taklim has empowered women. This can be seen in the satisfaction level of the congregation (members) who like the material of religious studies which is associated with women's empowerment in the health and economy sector.

 

Keywords: Management, Dakwah, Empowerment.

 

Abstrak

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana manajemen dakwah diterapkan pada majlis taklim dan bagaimana kegiatan majlis taklim dalam pemberdayaan perempuan ? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan manajemen dakwah pada majlis taklim dan kiprah majlis taklim dalam pemberdayaan perempuan.  Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek penelitian ini adalah majlis taklim Ar-Ridwan Garut Kota. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, kusioner, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen dakwah telah diterapkan pada majlis taklim ini dan dalam kegiatan-kegiatannya majlis taklim ini telah melakukan pemberdayaan terhadap perempuan. Hal ini nampak dalam tingkat kepuasan jamaah (anggota) yang menyukai materi kajian agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan dan ekonomi.

 

Kata kunci : Manajemen, Dakwah , Pemberdayaan.

 

PENDAHULUAN

Sebelum terjadi pandemic Covid 19, semangat (gairah) kehidupan beragama di dalam kehidupan bermasyarakat nampaknya dari hari ke hari memperlihatkan keadaan yang makin meningkat dan menggembirakan, khususnya di lingkup kehidupan masyarakat yang beragama Islam. Hal itu bukan saja terlihat dari makin bertambah banyaknya jumlah masjid dan atau musholla, tetapi juga makin meningkatnya jumlah kelompok-kelompok belajar yang terdapat di masyarakat  untuk mendalami ajaran-ajaran agama Islam.

Kelompok-kelompok belajar yang terdapat di masyarakat  yang beragama Islam untuk mendalami ajaran-ajaran agama Islam termaksud lebih dikenal dengan sebutan kelompok pengajian atau majlis taklim. Kelompok-kelompok pengajian atau majlis taklim itu beragam manajemennya (tata kelolanya), sebagian darinya dikelola oleh masjid dan atau musholla , oleh karenanya menjadi bagian dari ri’ayah (pemakmuran)  tetapi sebagian lainnya dikelola oleh lembaga (organisasi) tersendiri  yang tidak terkait atau terlepas dari masjid dan atau musholla , sehingga secara mandiri (independent)  menjadi lembaga atau organisasi majlis taklim.

Majlis taklim –majlis taklim sebagai kelompok-kelompok belajar untuk mendalami pemahaman ajaran agama Islam pada masyarakat,  sudah dikenal sejak masa awal perkembangan agama Islam. Oleh Muhammad Yacub, majlis taklim ini diidentifikasikan sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam.  Lembaga pendidikan yang ia maksud adalah perguruan formal, pesantren tradisional, majlis taklim, kelompok Yasinan, pesantren kilat, dan majlis kultum (kuliah tujuh menit  atau ceramah singkat), dalam Kuntowijoyo, 1988:250.

Majlis taklim-majlis taklim di berbagai daerah di Indonesia ini meskipun beragam sejarah berdiri dan pemunculannya, tetapi memiliki kesamaan dalam latar belakangnya yaitu adanya keinginan yang kuat  dan dorongan yang besar serta mendalam dari masyarakat untuk mendalami pemahaman ajaran agama Islam, sehingga kehadirannya  menjadi semacam respons dari kebutuhan masyarakat.

Dalam sudut pandang dakwah Islam, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di majlis taklim-majlis taklim itu nyata sekali termasuk ke dalam  kegiatan-kegiatan dakwah Islam, terutama jika mengingat bahwa di dalam kegiatan-kegiatannya terdapat : 1. Materi dakwah (yakni ajaran-ajaran agama Islam dan program-program pembangunan nasional serta program pembangunan daerah melalui pintu dan bahasa agam ); 2.  Subyek yang menyampaikan dakwah (para ustadz, para ustadzah, para Kiyai dan para Ajengan); 3. Obyek yang menerima dakwah (para anggota/jamaah majlistaklim-majlis taklim); 4. Metode dakwah  (beragam metode yang digunakan di majlis taklim-majlis taklim, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi/peragaan) dan 5. Media dakwah (papan tulis, alat pengeras suara,  bahkan dalam keadaan kekinian ada juga yang menggunakan laptop, LCD proyector, dan screen/layar).

Kegiatan dakwah Islam yang diselenggarakan di majlis taklim-majlis taklim itu, secara kategoris dapat dikelompokkan ke dalam dua besaran kegiatan dakwah , yaitu  kegiatan bimbingan agama dan penyuluhan agama . Sementara itu materi dakwah yang disampaikan di majlis taklim-majlis taklim itupun tidak sebatas materi ajaran-ajaran agama , bahkan disampaikan pula program-program pembangunan nasional dan program pemerintah daerah setempat , yang dalam penyampiannya menggunakan bahasa agama.

Penyampaian materi ajaran agama yang bersifat teknis dipastikan tidak cukup memadai jika disampaikan hanya dengan penyuluhan agama yang menggunakan  metode ceramah saja, dan karenanya membutuhkan disampaikan dengan metode demonstrasi /peragaan yang pada gilirannya kemudian lebih pada bimbingan teknis. Itu sebabnya dalam kegiatan-kegiatan majlis taklim-majlis taklim terdapat pula bentuk kegiatan yang dikenal dengan sebutan  bimbingan agama. Selain materi-materi yang bersifat teknis (tata cara peribadatan seperti wudhu, shalat, hajji-umroh, menghitung batas nisab zakat, hukum waris dan lain-lain), tentu saja  penyampaian materi ajaran agama dapat disampaikan dengan metode ceramah atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyuluhan agama.

Jika kehadiran dan pemunculan majlis taklim-majlis taklim ini lebih bersifat merespon atas keinginan kuat dan dorongan besar untuk memdalami pemahaman ajaran –ajaran agama maka pertanyaannya kemudian adalah :

1. Bagaimana manajemen dakwah Islam yang diaplikasikan (diterapkan) di majlis taklim-majlis taklim itu   ? ;

2. Bagaimana  majlis taklim-majlis taklim  termaksud menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat memberdayakan kaum perempuan ?

 

 

Kerangka Teoritik Manajemen, Dakwah dan Pemberdayaan

Secara lingustik manajemen berasal dari kata management , menurut WJS Poerwodarminto (1982:107) artinya pimpinan, direksi, atau pengurus.  Dalam pemaknaan selanjutnya, manajemen itu mengandung tiga pengertian, (1) manajemen sebagai proses, (2) manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen, dan (3) manajemen sebagai suatu seni dan ilmu , demikian menurut M. Manulang (1981:15).

Sementara itu pemaknaan manajemen  menurut  Mary  Parker Follet adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (2003:51),  yang menekankan bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.  Berbeda dengan pengertian tadi, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien (2006).

Dakwah sering didefinisikan sebagai mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai perintah Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat (Toha Yahya Omar, 1979:1), mengajak orang lainuntuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariah Islamiyyah yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah itu sendiri (A.Hasymi, 1984:18), suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya  suatu pengertian, kesadaran, sikap ,penghayatan  serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur pemaksaan  (HM Arifin, 2000:6).

Selain itu dakwah pun sering dipahami sebagai upaya mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat (Samsul Munir Amin, 2009:228).

Sepanjang pemaparan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses atau aktivitas dakwah itu bersifat At- Tahawwul (perbaikan) dan sekaligus At- Taghayyur (perubahan). Mengingat  bahwa dalam aktivitas dan atau proses dakwah itu  ada tujuan yang direncanakan yaitu perubahan persepsi (pemahaman), perilaku atau sikap dan tindakan dari obyek dakwah ke  arah sebagaimana yang dikehendaki dalam tujuan dakwah (At-Tahawwul) dan sekaligus terjadinya perubahan dalam diri obyek dakwah baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas  dalam aspek kehidupan kehidupan beragamanya, aspek sosial ekonominya dan sebagainya.

Oleh karena rentang kegiatan dakwah itu begitu luas , bukan saja melibatkan begitu banyak unsur man power (tenaga manusia), beragam methode (cara), berbagai material (bahan baku), machine (peralatan mesin dan perkakas), moneys (uang atau biaya), bahkan berbagai teknik marketing (pemasaran), maka aplikasi (penerapan) manajemen dipandang perlu menjadi sangat penting.

Pemberdayaan sebagai sebuah diksi secara kebahasaan  merupakan padanan atau terjemah dari empowerment atau empowering dalam bahasa Inggris. Ide tentang pemberdayaan itu bersentuhan dengan konsep power (kekuasaan), yang dapat berubah dan diperluas. Artinya bahwa kekuasaan itu bukan sesuatu yang konstan (tetap) tetapi justru dapat berubah dan oleh karenanya maka kekuasaan itu dapat dialokasikan dan dibagikan serta diperluas (power sharing).

Dalam rekayasa sosial (social engeneering) pemberdayaan itu lebih merupakan suatu cara yang mengarahkan rakyat, organisasi dan komunitas agar mampu menguasai kehidupannya dan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang lemah atau tidak beruntung (Rappaport, 1984 dan Ife,1985)

Strategi pemberdayaan secara garis besar mengarah pada tiga aras : (1) aras mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok secara individu melalui bimbingan, konseling dsb yang tujuan utamanya membimbing dan melatih kelompok dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya; (2) aras mezzo; pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi, diklat dan dinamika kelompok biasanya digunakan untuk membangun kesadaran dalam memecahkan persoalan; (3) aras makro; sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas melalui perumusan kebijakan,perencanaan sosial, aksi sosial, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik dan lain sebagainya.

Pemberdayaan menunjuk kepada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, mempunyai kemampuan, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Pendekatan pemberdayaan yang lazim diterapkan antara lain : (1) pemungkinan; menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal; (2) Penguatan; memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya; (3) Perlindungan; melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat; (4) Penyokongan; memberikan dukungan dan bimbingan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya; (5) Pemeliharaan; memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat .

Sepanjang pemaparan tadi dapat disimpulkan bahwa meskipun istilah pemberdayaan ini terjemah dari istilah bahasa Inggris empowerment , yang arti awalnya adalah penguatan, tetapi secara teknis kadang istilah pemberdayaan ini sering pula disamakan dengan istilah pengembangan, yang bahkan sering dalam penggunaannya dapat dipertukarkan  (Agus Ahmad Safei, 2012: 61).

Pemberdayaan masyarakat atau tepatnya pemberdayaan sumber daya manusia hakikatnya lebih merupakan upaya memperluas cakrawala bagi masyarakat untuk mencandra (melihat) beragam pilihan dalam  menetapkan sesuatu yang bermanfat bagi dirinya. Dengan demikian  dapat dinyatakan bahwa masyarakat yang berdaya adalah yang dapat melihat beragam alternative pilihan  dan memiliki kesempatan untuk mengumpulkan beragam pilihannya itu serta kemudian menetapkan pilihannya yang terbaik untuk kebermanfaatan dalam menghadapi kehidupannya.

Sementara Amrullah Ahmad menyatakan bahwa pemberdayaan  masyarakat Islam adalah sistem tindakan nyata yang menawarkan alternative model pemecahan masalah keummatan  dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam perspektif Islam (Amrullah Ahmad, 1999: 9), maka  Imang Mansur Burhani  (1998 :121) mendefinisikan pemberdayaan  ummat atau masyarakat sebagai upaya membangkitkan potensi ummat Islam ke arah yang lebih baik, baik dalam kehidupan sosial, politik maupun ekonomi.

Pemberdayaan  perempuan , dalam kontek ini lebih merupakan upaya memperluas cakrawala bagi kaum perempuan  untuk dapat melihat beragam alternative pilihan  dan memiliki kesempatan untuk mengumpulkan beragam pilihannya itu serta kemudian menetapkan pilihannya yang terbaik untuk kebermanfaatan dirinya dalam menghadapi kehidupannya.

 

METODE PENELITIAN

                Penelitian yang dilakukan adalah jenis  penelitian deskriptif untuk mengungkap fakta yang terdapat dilapangan.  Menurut Sukardi (2004)  penelitian deskriptif  merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan obyek sesuai apa adanya. Obyek dideskripsikan melalui suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi sekarang, dengan tujuan untuk mencari solusi secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi yang dijadikan obyek penelitian.

                Penelitian ini dilakukan pada majlis taklim Ar-Ridwan kelurahan Kota Wetan kecamatan Garut Kota, dalam rangkaian kegiatan DDWK Diklat Teknis Substantif Panyuluh Agama Honorer di Kanmenag Kab Garut pada tanggal 06 Juli  - 11 Juli 2020. Dengan jumlah responden 40 orang , dengan kategori jamaah (anggota) majlis taklim  dan pengurusnya.

Lingkup penelitian dalam tulisan ini secara purposive (sengaja) dibatasi pada majlis taklim “Ar-Ridwan” Kota Wetan Garut , dengan beberapa pertimbangan, antara lain,  pertama,  untuk kemudahan pengumpulan data; kedua, untuk penunjukan daerah perkotaan yang memungkinkan terjadinya upaya pemberdayaan bagi kaum perempuan; dan ketiga, untuk ketersedian tenaga, biaya dan waktu penelitian.

 

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

               

Aplikasi manajemen dakwah telah digunakan pada majlis taklim  Ar-Ridwan ini, karena telah ditetapkan  man powers (personalia kepengurusan,  pengajar/penceramah), materials (materi, bahan yang diajarkan/disampaikan), money (biaya, dana), machine (alat-alat yang digunakan), method (metoda yang digunakan) dan market (pemasaran) , berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Dra. Hajjah Iis Rosmiati, Ketua Pengurus majlis taklim Ar-Ridwan , tanggal 6 Juli 2020.

                Hajjah Iis Rosmiati selanjutnya menyatakan bahwa  meskipun tidak dalam bentuk kepengurusan yang melibatkan banyak orang, majlis taklim Ar-Ridwan ini berdasarkan musyawarah jamaah telah memilih dan menetapkan pengurus yang terdiri dari Ketua (Dra. Hajjah Iis Rosmiati ), Sekretaris (Dra.Hajjah Kiki Zakiah) dan Bendahara (Dra. Hajjah Yayah Mardiah) serta dua seksi yaitu seksi pengajian (Mimin Mintarsih) dan seksi konsumsi (Dedah Jubaedah dan Juju Juariyah). Tenaga pengajar/penceramah pun telah dijadwalkan per tahun , terdiri dari : (1)  Ibu Ustadzah  Dra. Nurlela, (2) Ibu Ustdzah Hajjah Sumarni,(3) Ibu Ustadzah Khodijah, (4) Ibu Ustadzah Dedeh Hasanah, (5) Ibu Ustadzah Iyam Maryam, (6) Ibu Ustadzah Pia Sopiati, (7) Ibu Ustadzah Hajjah Halimah, (8) Ibu Ustadzah Apong Rostiawati, dan (9) Ibu Ustadzah Yuli Fauziah.

                Materi yang disampaikan dalam kegiatan majlis taklim ini terdiri dari : (1) aqidah (2) akhlaq, (3) fiqh , (4) baca tulis Al-Quran dan tafsirnya, (5)  suplemen yang diselipkan berupa program pemerintah baik daerah/kabupaten maupun nasional, demikian dinyatakan oleh oleh Ibu Mimin Mintarsih ,seksi pengajian majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020.

                Dalam hal pendanaan (pembiayaan) majlis taklim ini mengandalkan dari infaq shadaqah dari jamaah (anggota) dan dari para aghniya (orang kaya) dan muhsinin (dermawan) yang ada di sekitar lokasi majlis taklim ini, menurut Ibu Dra.Hj. Yayah Mardiyah, Bendahara majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020. Sementara itu, dalam hal penjadwalan kegiatan pengajian , telah dibuatkan jadwal secara periodik per tahun dengan pembagian tugas siapa (ustadzahnya) mengajarkan materi apa (aqidah, akhlaq, fiqh, baca tulis Al-Quran dan tafsirnya) dan kapan waktunya (tanggal berapa bulan apa), demikian dinyataakan oleh Ibu Dra. Hajjah Kiki Zakiah, Sekretaris majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020.

                Peralatan yang digunakan di majlis taklim Ar-Ridwan ini masih sangat sederhana yakni white board (papan tulis), mushaf Al-Quran, pengeras suara Toa, hanya beberapa Ustadzah (pemateri/penceramah) yang menggunakan laptop dan LCD proyector milik pribadinya , hasil wawancara dengan Ibu Dra Hajjah Iis Rosmiati (Ketua ) dan Ibu Mimin Mintarsih (seksi pengajian) majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020.

                Untuk memelihara semangat jamaah (anggota) majlis taklim dalam hal mengikuti kegiatan-kegiatan majlis taklim Ar-Ridwan ini , sekaligus untuk memasarkan (marketing) majlis taklim ini di tengah- tengah masyarakat   maka dibuat program pengadaan pakaian seragam (uniform) jamaah majlis taklim dan pada setiap kali penyelenggaraan kegiatan disediakan makanan dan minuman ringan , demikian dinyatakan Ibu Dra.Hj. Iis Rosmiati (Ketua) dan Ibu Dedah Jubaedah (Seksi konsumsi) majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 10 Juli 2020.

                Majlis taklim Ar- Ridwan sebagai lembaga (organisasi) kelompok masyarakat yang mendalami ajaran-ajaran agama Islam, diikuti oleh jamaah (anggota) yang dari segi batasan usia (umur), latar belakang pendidikan dan mata pencaharian (ekonomi) beragam.  Untuk memperkuat keterangan ini, penulis telah menyebarkan angket sejumlah 50 buah dan hanya 40 buah yang dikembalikan dengan jawaban yang lengkap. Angket dimaksud untuk mengetahui identitas responden dan tanggapannya terhadap kegiatan majlis taklim Ar-Ridwan secara menyeluruh.

Tabel  1

                                                                Identitas Jamaah (anggota)

No.

Usia

Frekwensi

Persentase

1

16 -25 tahun

8

20 %

2

26-35 tahun

12

30 %

3

36- 45 tahun

11

27,5 %

4

46- 55 tahun

5

12,5 %

5

56- ke atas

4

10 %

 

Jumlah

40

100 %

 

                Dari segi batasan usia (umur) jamaah (anggota) majlis taklim ini ternyata cukup beragam, mulai dari usia 16 tahun sampai dengan usia 56 tahun ke atas. Hal itu menunjukkan bahwa jamaah (anggota) majlis taklim ini ada yang masih usia pelajar SLTA (Madrasah Aliyah). Alasan mereka antara lain untuk melaksanakan tugas dari Pesantren (Pesantren Persatuan Islam No.19 Bentar Kota Wetan) tempat mereka belajar yang kebetulan berdekatan dengan majlis taklim ini, selain untuk memperdalam ilmu agama Islam dan untuk latihan secara langsung dalam hal pengelolaan majlis taklim.

                                                                                Table 2

                                                                Pekerjaan Jamaah (anggota)

No

Pekerjaan

Frekwensi

Presentasi

1

Pelajar

2

5 %

2

Pedagang

6

15 %

3

Pekerja Profesi Guru dan buruh

5

12,5 %

4

Ibu Rumah Tangga

23

57,5 %

5

Pegawai Negeri

4

10 %

 

Jumlah

40

100 %

 

Dari segi latar belakang mata pencaharian atau pekerjaan sebagian besar adalah Ibu Rumah Tangga, selebihnya adalah pedagang (baik di pasar induk Ciawitali maupun di warung atau toko miliknya sendiri), Guru Non PNS di Pesantren Persatuan Islam No. 19 Bentar  dan di sekolah serta Pelajar.

                                                                                Tabel 3

                                                                Pendidikan Jamaah (anggota)

No.

Jenjang Pendidikan

Frekwensi

Persentase

1

Pesantren

9

22,5 %

2

Tidak tamat SD/Ibtidaiyah

2

5 %

3

SD /Ibtidaiyah

3

7,5 %

4

SLTP / Tsanawiyah

5

12,5 %

5

SLTA / Aliyah

18

45 %

6

Universitas / Perguruan Tinggi

3

7,5 %

 

Jumlah

40

100 %

 

                Dari segi latar belakang pendidikan jamaah (anggota) lebih banyak yang berpendidikan tamatan/alumni SLTA/ Aliyah karenanya mereka cukup mampu berpikir kritis dan mampu mengikuti kegiatan pemberdayaan perempuan.  Demikian pula halnya dengan yang berlatar belakang pendidikan pesantren , mereka cukup mampu mengembangkan pemahaman ajaran agama dalam kontek pemberdayaan perempuan.

                                                                                Tabel 4

                                                                Kehadiran Mengikuti Kegiatan

No.

Kehadiran

Frekwensi

Persentase

1

Seminggu sekali

30

75 %

2

Dua minggu sekali

7

17,5 %

3

Tiga minggu sekali

3

7,5 %

4

Empat minggu sekali

-

-

 

Jumlah

40

100 %

 

                Jamaah (anggota) yang menghadiri kegiatan majlis taklim ini lebih banyak yang tetap secara konsisten (istiqomah) karena kegiatannya yang bersifat kegiatan rutin mingguan. Tetapi ada pula yang tidak secara tetap mengikutinya karena berbenturan dengan kegiatan lain (mengajar dan atau terjadwal dalam kegiatan pesantren).

                                                                                Tabel 5

                                                Manfaat Mengikuti Kegiatan Majlis Taklim

No.

Manfaat

Frekwensi

Persentase

1

Sangat Bermanfaat

30

75 %

2

Bermanfaat

7

17,5 %

3

Cukup Bermanfaat

3

7,5 %

4

Kurang Bermanfaat

-

-

 

Jumlah

40

100 %

 

                Jamaah (anggota) majlis taklim sebagian besar menyatakan bahwa kehadiran mereka mengikuti kegiatan majlis taklim itu sangat bermanfaat, selain untuk mendalami ajaran agama Islam dengan pemahaman yang makin luas dan tidak sempit, juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengamalan ibadah sehari-hari  dan untuk pemberdayaan ekonomi jamaah (anggota) karena ada kegiatan tambahan berupa arisan jamaah (anggota) serta tabungan ibadah qurban dalam menghadapi iedul ad-ha (ied qurban) .

                                                                                Tabel 6

                                                                Jenis Kegiatan Majlis Talim Yang Disukai

No.

Jenis Kegiatan Majlis Taklim

Frekwensi

Persentase

1

Membaca Al Quran bersama

14

35 %

2

Mengikuti Kajian Tafsir

6

15 %

3

Mendengarkan Ceramah Aqidah Akhlaq (perempuan)

7

17,5 %

4

Mengikuti Ceramah Tanya Jawab  Fiqh

10

25 %

5

Mengikuti Arisan Jamaah dan Tabungan Qurban

3

7,5%

 

Jumlah

40

100 %

 

                Kegiatan majlis taklim yang paling disukai jamaah (anggota) adalah membaca Al Quran bersama /berjamaah (35 %) yang biasanya dilaksanakan sebelum Ustadzah Penceramah/Pengajar memulai penyampaian materi bahasan.  Mengikuti ceramah dan Tanya jawab persoalan Fiqh Perempuan pun menjadi kegiatan yang disukai jamaah (25 %) , selain mendengarkan ceramah Aqidah- Akhlaq Perempuan (17,5 %) . Selanjutnya Mengikuti Kajian Tafsir (15 %) dan selebihnya  mengikuti Arisan Jamaah dan Tabungan Qurban (7,5 %).      

                                                                                Tabel 7

                                                                Materi Kajian Yang Disukai

No.

Materi Kajian

Frekwensi

Persentase

1

Agama semata

13

32,5 % %

2

Agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan (kesehatan, dan ekonomi )

25

62,5  %

3

Program Pembangunan Daerah/Nasional

2

5 %

 

Jumlah

40

100 %

 

Materi kajian yang disampaikan di kegiatan majlis taklim yang paling disukai oleh jamaah (anggota) adalah materi agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan (terutama di bidang kesehatan dan ekonomi), hal itu dinyatakan dalam jawaban responden yang lebih dari separuh total jamaah (62,5 %).  Berbanding terbalik dengan itu, yang paling tidak disukai jika ada penyampaian materi  program pembangunan sebagai materi suplemen (tambahan, sisipan) yang disampaikan oleh tokoh/aparat pemerintahan setempat (aparat dari Kantor kelurahan).

 

PENUTUP

                Sepanjang pemaparan hasil penelitian dan pembahasannya di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa majlis taklim sebagai lembaga atau institusi kelompok masyarakat yang dibentuk untuk mendalami ajaran agama telah mengaplikasikan (menerapkan) manajemen dakwah.  Manajemen dakwah yang diterapkannya  meliputi unsur-unsur manajemen yaitu man power (tenaga personalia pengurus dan jamaah/anggota), material (bahan kajian pendalaman ajaran agama yang disampaikan), money (keuangan /pendanaan), machine (peralatan dan mesin  yang digunakan), method (cara yang digunakan), market (pemasaran agar diminati) meskipun dalam batas yang sederhana.

                Dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya, majlis taklim telah merencanakan penjadwalan kegiatan,  menetapkan susunan kepengurusan, menggerakkan jenis-jenis kegiatan yang dilengkapi dengan materi-materi (bahan kajian) yang hendak disampaikan kepada jamaah (anggota), disertai dengan pengendalian kegiatan  untuk agar tetap diminati untuk diikuti/dihadiri oleh jamaah (anggota) sekaligus agar mampu ditawarkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat melalui penyediaan pakaian seragaman bagi jamaah (anggota) dan penyediaan makanan-minuman ringan setiap kali kegiatan digelar/diselenggarakan. Selain itu juga disampaikan materi kajian berupa ajaran agama yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan dan ekonomi, yang ditindak lanjuti dengan arisan jamaah dan tabungan ibadah qurban.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Amrullah. Strategi Dakwah di Tengah Era Reformasi Menuju Indonesia Baru dalam Memasuki Abad ke-21 , Makalah disampaikan dalam Sarasehan Nasional : Menggagas Strategi Dakwah Menuju Indonesia Baru Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 21 April 1999

Ahmad Safei, Agus. Sosiologi Dakwah. Bandung : Arsad Press. 2012

A.Hasymi . Dustur Dakwah Menurut Al Quran. Jakarta : Bulan Bintang. 1984

Arifin, H.M. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Jakarta : Bumi Aksara. 2000

Barrett, Richard. Vocational Business : Training, Developing and Motivating People, Business & Economicus. New Jersey : Prantice Hall. 2003

Griffin, Ricky W. Business. 8th Edition. New Jersey : Prantice Hall. 2006

Mansur Burhan, Imang. Pokok-pokok Pikiran tentang Zakat dalam Pemberdayaan Ummat, dalam Jurnal Al-Tadbir : Transformasi al-Islam Dalam Pranata dan Pembangunan. Bandung : Pusat Pengkajian Islam dan Pranata IAIN Sunan Gunung Djati Bandung , 1998.

M.Manulang. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta : Ghalia Indonesia. 1981

Poerwadarminta, WJS. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Bandung : Hasta. 1981.

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan. Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta : Bumi Aksara. 2004

Yahya Omar, Toha. Ilmu Dakwah. Jakarta : Wijaya. 1979