MANAJEMEN DAKWAH PADA MAJLIS TAKLIM DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
Oleh : H.Ahmad Musodik
Balai Diklat Keagamaan Bandung
indisav172@gmail.com
Abstract
The problem in this research is how the
dakwah management is applied to majlis taklim and how is majlis taklim
activities in empowering women? This study aims to determine the application of
dakwah management in majlis taklim and majlis taklim activities in empowering women. This research is a field
research with a qualitative descriptive approach. The object of this research
is majlis taklim Ar-Ridwan Garut Kota. The data collection technique is done by
using interviews, questionnaires, observation and documentation study. The
results showed that the dakwah management has been implemented in this majlis
taklim and in its activities this majlis taklim has empowered women. This can
be seen in the satisfaction level of the congregation (members) who like the material
of religious studies which is associated with women's empowerment in the health
and economy sector.
Keywords: Management, Dakwah, Empowerment.
Abstrak
Permasalahan dalam penelitian ini
adalah bagaimana manajemen dakwah diterapkan pada majlis taklim dan bagaimana
kegiatan majlis taklim dalam pemberdayaan perempuan ? Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui penerapan manajemen dakwah pada majlis taklim dan kiprah
majlis taklim dalam pemberdayaan perempuan.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research)
dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek penelitian ini adalah majlis
taklim Ar-Ridwan Garut Kota. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan wawancara, kusioner, observasi dan studi dokumentasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa manajemen dakwah telah diterapkan pada majlis
taklim ini dan dalam kegiatan-kegiatannya majlis taklim ini telah melakukan
pemberdayaan terhadap perempuan. Hal ini nampak dalam tingkat kepuasan jamaah
(anggota) yang menyukai materi kajian agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan
perempuan di bidang kesehatan dan ekonomi.
Kata kunci : Manajemen, Dakwah ,
Pemberdayaan.
PENDAHULUAN
Sebelum terjadi pandemic Covid 19,
semangat (gairah) kehidupan beragama di dalam kehidupan bermasyarakat nampaknya
dari hari ke hari memperlihatkan keadaan yang makin meningkat dan
menggembirakan, khususnya di lingkup kehidupan masyarakat yang beragama Islam.
Hal itu bukan saja terlihat dari makin bertambah banyaknya jumlah masjid dan
atau musholla, tetapi juga makin meningkatnya jumlah kelompok-kelompok belajar
yang terdapat di masyarakat untuk
mendalami ajaran-ajaran agama Islam.
Kelompok-kelompok belajar yang
terdapat di masyarakat yang beragama
Islam untuk mendalami ajaran-ajaran agama Islam termaksud lebih dikenal dengan
sebutan kelompok pengajian atau majlis taklim. Kelompok-kelompok pengajian atau
majlis taklim itu beragam manajemennya (tata kelolanya), sebagian darinya
dikelola oleh masjid dan atau musholla , oleh karenanya menjadi bagian dari ri’ayah
(pemakmuran) tetapi sebagian lainnya
dikelola oleh lembaga (organisasi) tersendiri
yang tidak terkait atau terlepas dari masjid dan atau musholla ,
sehingga secara mandiri (independent)
menjadi lembaga atau organisasi majlis taklim.
Majlis taklim –majlis taklim
sebagai kelompok-kelompok belajar untuk mendalami pemahaman ajaran agama Islam
pada masyarakat, sudah dikenal sejak
masa awal perkembangan agama Islam. Oleh Muhammad Yacub, majlis taklim ini
diidentifikasikan sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang ia maksud adalah
perguruan formal, pesantren tradisional, majlis taklim, kelompok Yasinan,
pesantren kilat, dan majlis kultum (kuliah tujuh menit atau ceramah singkat), dalam Kuntowijoyo,
1988:250.
Majlis taklim-majlis taklim di
berbagai daerah di Indonesia ini meskipun beragam sejarah berdiri dan
pemunculannya, tetapi memiliki kesamaan dalam latar belakangnya yaitu adanya
keinginan yang kuat dan dorongan yang
besar serta mendalam dari masyarakat untuk mendalami pemahaman ajaran agama
Islam, sehingga kehadirannya menjadi
semacam respons dari kebutuhan masyarakat.
Dalam sudut pandang dakwah Islam,
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di majlis taklim-majlis taklim itu nyata
sekali termasuk ke dalam kegiatan-kegiatan dakwah Islam, terutama jika
mengingat bahwa di dalam kegiatan-kegiatannya terdapat : 1. Materi dakwah
(yakni ajaran-ajaran agama Islam dan program-program pembangunan nasional serta
program pembangunan daerah melalui pintu dan bahasa agam ); 2. Subyek yang menyampaikan dakwah (para ustadz,
para ustadzah, para Kiyai dan para Ajengan); 3. Obyek yang menerima dakwah
(para anggota/jamaah majlistaklim-majlis taklim); 4. Metode dakwah (beragam metode yang digunakan di majlis taklim-majlis
taklim, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi/peragaan) dan 5. Media dakwah
(papan tulis, alat pengeras suara,
bahkan dalam keadaan kekinian ada juga yang menggunakan laptop, LCD
proyector, dan screen/layar).
Kegiatan dakwah Islam yang
diselenggarakan di majlis taklim-majlis taklim itu, secara kategoris dapat
dikelompokkan ke dalam dua besaran kegiatan dakwah , yaitu kegiatan bimbingan agama dan penyuluhan agama
. Sementara itu materi dakwah yang disampaikan di majlis taklim-majlis taklim
itupun tidak sebatas materi ajaran-ajaran agama , bahkan disampaikan pula
program-program pembangunan nasional dan program pemerintah daerah setempat ,
yang dalam penyampiannya menggunakan bahasa agama.
Penyampaian materi ajaran agama
yang bersifat teknis dipastikan tidak cukup memadai jika disampaikan hanya dengan
penyuluhan agama yang menggunakan metode
ceramah saja, dan karenanya membutuhkan disampaikan dengan metode demonstrasi
/peragaan yang pada gilirannya kemudian lebih pada bimbingan teknis. Itu
sebabnya dalam kegiatan-kegiatan majlis taklim-majlis taklim terdapat pula
bentuk kegiatan yang dikenal dengan sebutan
bimbingan agama. Selain materi-materi yang bersifat teknis (tata cara
peribadatan seperti wudhu, shalat, hajji-umroh, menghitung batas nisab zakat,
hukum waris dan lain-lain), tentu saja
penyampaian materi ajaran agama dapat disampaikan dengan metode ceramah
atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyuluhan agama.
Jika kehadiran dan pemunculan
majlis taklim-majlis taklim ini lebih bersifat merespon atas keinginan kuat dan
dorongan besar untuk memdalami pemahaman ajaran –ajaran agama maka
pertanyaannya kemudian adalah :
1. Bagaimana manajemen dakwah Islam yang
diaplikasikan (diterapkan) di majlis taklim-majlis taklim itu ? ;
2. Bagaimana
majlis taklim-majlis taklim termaksud menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
yang bersifat memberdayakan kaum perempuan ?
Kerangka
Teoritik Manajemen, Dakwah dan Pemberdayaan
Secara lingustik manajemen berasal
dari kata management , menurut WJS Poerwodarminto (1982:107) artinya
pimpinan, direksi, atau pengurus. Dalam
pemaknaan selanjutnya, manajemen itu mengandung tiga pengertian, (1) manajemen
sebagai proses, (2) manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan
aktivitas manajemen, dan (3) manajemen sebagai suatu seni dan ilmu , demikian
menurut M. Manulang (1981:15).
Sementara itu pemaknaan
manajemen menurut Mary
Parker Follet adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain
(2003:51), yang menekankan bahwa seorang
manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan
organisasi. Berbeda dengan pengertian
tadi, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengontrolan sumber daya
untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien (2006).
Dakwah sering didefinisikan
sebagai mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai
perintah Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat
(Toha Yahya Omar, 1979:1), mengajak orang lainuntuk meyakini dan mengamalkan
aqidah dan syariah Islamiyyah yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan
oleh pendakwah itu sendiri (A.Hasymi, 1984:18), suatu kegiatan ajakan baik
dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara
sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual
maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap
,penghayatan serta pengamalan terhadap
ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa
adanya unsur-unsur pemaksaan (HM Arifin,
2000:6).
Selain itu dakwah pun sering
dipahami sebagai upaya mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan menurut
petunjuk, menyeru mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan
munkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat (Samsul Munir
Amin, 2009:228).
Sepanjang pemaparan tersebut di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa proses atau aktivitas dakwah itu bersifat At-
Tahawwul (perbaikan) dan sekaligus At- Taghayyur (perubahan). Mengingat bahwa dalam aktivitas dan atau proses dakwah
itu ada tujuan yang direncanakan yaitu
perubahan persepsi (pemahaman), perilaku atau sikap dan tindakan dari obyek
dakwah ke arah sebagaimana yang
dikehendaki dalam tujuan dakwah (At-Tahawwul) dan sekaligus terjadinya
perubahan dalam diri obyek dakwah baik dari segi kualitas maupun dari segi
kuantitas dalam aspek kehidupan
kehidupan beragamanya, aspek sosial ekonominya dan sebagainya.
Oleh karena rentang kegiatan
dakwah itu begitu luas , bukan saja melibatkan begitu banyak unsur man power
(tenaga manusia), beragam methode (cara), berbagai material
(bahan baku), machine (peralatan mesin dan perkakas), moneys
(uang atau biaya), bahkan berbagai teknik marketing (pemasaran), maka
aplikasi (penerapan) manajemen dipandang perlu menjadi sangat penting.
Pemberdayaan sebagai sebuah diksi
secara kebahasaan merupakan padanan atau
terjemah dari empowerment atau empowering dalam bahasa Inggris.
Ide tentang pemberdayaan itu bersentuhan dengan konsep power
(kekuasaan), yang dapat berubah dan diperluas. Artinya bahwa kekuasaan itu
bukan sesuatu yang konstan (tetap) tetapi justru dapat berubah dan oleh
karenanya maka kekuasaan itu dapat dialokasikan dan dibagikan serta diperluas (power
sharing).
Dalam rekayasa sosial (social
engeneering) pemberdayaan itu lebih merupakan suatu cara yang mengarahkan
rakyat, organisasi dan komunitas agar mampu menguasai kehidupannya dan
bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang lemah atau tidak beruntung
(Rappaport, 1984 dan Ife,1985)
Strategi pemberdayaan secara garis
besar mengarah pada tiga aras : (1) aras mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok secara individu melalui bimbingan,
konseling dsb yang tujuan utamanya membimbing dan melatih kelompok dalam
menjalankan tugas-tugas kehidupannya; (2) aras mezzo; pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media
intervensi, diklat dan dinamika kelompok biasanya digunakan untuk membangun
kesadaran dalam memecahkan persoalan; (3) aras makro; sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas
melalui perumusan kebijakan,perencanaan sosial, aksi sosial, pengorganisasian
masyarakat, manajemen konflik dan lain
sebagainya.
Pemberdayaan menunjuk kepada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh
perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, mempunyai kemampuan,
pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara
layak. Pendekatan pemberdayaan yang lazim diterapkan antara lain : (1)
pemungkinan; menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat
berkembang secara optimal; (2) Penguatan; memperkuat pengetahuan dan kemampuan
yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhannya; (3)
Perlindungan; melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak
tertindas oleh kelompok kuat; (4) Penyokongan; memberikan dukungan dan
bimbingan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas
kehidupannya; (5) Pemeliharaan; memelihara kondisi yang kondusif agar tetap
terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat .
Sepanjang pemaparan tadi dapat disimpulkan bahwa meskipun
istilah “pemberdayaan” ini terjemah dari istilah bahasa
Inggris empowerment , yang arti awalnya adalah penguatan, tetapi secara
teknis kadang istilah pemberdayaan ini sering pula disamakan dengan istilah
pengembangan, yang bahkan sering dalam penggunaannya dapat dipertukarkan (Agus Ahmad Safei, 2012: 61).
Pemberdayaan masyarakat – atau tepatnya pemberdayaan
sumber daya manusia – hakikatnya lebih
merupakan upaya memperluas cakrawala bagi masyarakat untuk mencandra (melihat)
beragam pilihan dalam menetapkan sesuatu
yang bermanfat bagi dirinya. Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa masyarakat yang berdaya adalah yang dapat melihat
beragam alternative pilihan dan memiliki
kesempatan untuk mengumpulkan beragam pilihannya itu serta kemudian menetapkan
pilihannya yang terbaik untuk kebermanfaatan dalam menghadapi kehidupannya.
Sementara Amrullah Ahmad menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat Islam adalah sistem tindakan nyata
yang menawarkan alternative model pemecahan masalah keummatan dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan
dalam perspektif Islam (Amrullah Ahmad, 1999: 9), maka Imang Mansur Burhani (1998 :121) mendefinisikan pemberdayaan ummat atau masyarakat sebagai upaya
membangkitkan potensi ummat Islam ke arah yang lebih baik, baik dalam kehidupan
sosial, politik maupun ekonomi.
Pemberdayaan
perempuan , dalam kontek ini lebih merupakan upaya memperluas cakrawala
bagi kaum perempuan untuk dapat melihat
beragam alternative pilihan dan memiliki
kesempatan untuk mengumpulkan beragam pilihannya itu serta kemudian menetapkan
pilihannya yang terbaik untuk kebermanfaatan dirinya dalam menghadapi
kehidupannya.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang
dilakukan adalah jenis penelitian
deskriptif untuk mengungkap fakta yang terdapat dilapangan. Menurut Sukardi (2004) penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha
menggambarkan dan menginterpretasikan obyek sesuai apa adanya. Obyek
dideskripsikan melalui suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi sekarang,
dengan tujuan untuk mencari solusi secara sistematis, factual dan akurat
mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi yang dijadikan obyek penelitian.
Penelitian
ini dilakukan pada majlis taklim Ar-Ridwan kelurahan Kota Wetan kecamatan Garut
Kota, dalam rangkaian kegiatan DDWK Diklat Teknis Substantif Panyuluh Agama
Honorer di Kanmenag Kab Garut pada tanggal 06 Juli - 11 Juli 2020. Dengan jumlah responden 40
orang , dengan kategori jamaah (anggota) majlis taklim dan pengurusnya.
Lingkup penelitian dalam tulisan
ini secara purposive (sengaja) dibatasi pada majlis taklim “Ar-Ridwan”
Kota Wetan Garut , dengan beberapa pertimbangan, antara lain, pertama,
untuk kemudahan pengumpulan data; kedua, untuk penunjukan daerah
perkotaan yang memungkinkan terjadinya upaya pemberdayaan bagi kaum perempuan;
dan ketiga, untuk ketersedian tenaga, biaya dan waktu penelitian.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Aplikasi manajemen dakwah telah digunakan
pada majlis taklim Ar-Ridwan ini, karena
telah ditetapkan man powers (personalia
kepengurusan, pengajar/penceramah), materials
(materi, bahan yang diajarkan/disampaikan), money (biaya, dana), machine
(alat-alat yang digunakan), method (metoda yang digunakan) dan market
(pemasaran) , berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Dra. Hajjah Iis Rosmiati,
Ketua Pengurus majlis taklim Ar-Ridwan , tanggal 6 Juli 2020.
Hajjah
Iis Rosmiati selanjutnya menyatakan bahwa
meskipun tidak dalam bentuk kepengurusan yang melibatkan banyak orang,
majlis taklim Ar-Ridwan ini berdasarkan musyawarah jamaah telah memilih dan
menetapkan pengurus yang terdiri dari Ketua (Dra. Hajjah Iis Rosmiati ),
Sekretaris (Dra.Hajjah Kiki Zakiah) dan Bendahara (Dra. Hajjah Yayah Mardiah)
serta dua seksi yaitu seksi pengajian (Mimin Mintarsih) dan seksi konsumsi
(Dedah Jubaedah dan Juju Juariyah). Tenaga pengajar/penceramah pun telah
dijadwalkan per tahun , terdiri dari : (1)
Ibu Ustadzah Dra. Nurlela, (2)
Ibu Ustdzah Hajjah Sumarni,(3) Ibu Ustadzah Khodijah, (4) Ibu Ustadzah Dedeh Hasanah,
(5) Ibu Ustadzah Iyam Maryam, (6) Ibu Ustadzah Pia Sopiati, (7) Ibu Ustadzah
Hajjah Halimah, (8) Ibu Ustadzah Apong Rostiawati, dan (9) Ibu Ustadzah Yuli
Fauziah.
Materi
yang disampaikan dalam kegiatan majlis taklim ini terdiri dari : (1) aqidah (2)
akhlaq, (3) fiqh , (4) baca tulis Al-Qur’an dan tafsirnya, (5)
suplemen yang diselipkan berupa program
pemerintah baik daerah/kabupaten maupun nasional, demikian dinyatakan oleh oleh
Ibu Mimin Mintarsih ,seksi pengajian majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli
2020.
Dalam
hal pendanaan (pembiayaan) majlis taklim ini mengandalkan dari infaq shadaqah
dari jamaah (anggota) dan dari para aghniya (orang kaya) dan muhsinin
(dermawan) yang ada di sekitar lokasi majlis taklim ini, menurut Ibu Dra.Hj.
Yayah Mardiyah, Bendahara majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020. Sementara
itu, dalam hal penjadwalan kegiatan pengajian , telah dibuatkan jadwal secara
periodik per tahun dengan pembagian tugas siapa (ustadzahnya) mengajarkan
materi apa (aqidah, akhlaq, fiqh, baca tulis Al-Qur’an dan tafsirnya) dan
kapan waktunya (tanggal berapa bulan apa), demikian dinyataakan oleh Ibu Dra.
Hajjah Kiki Zakiah, Sekretaris majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020.
Peralatan
yang digunakan di majlis taklim Ar-Ridwan ini masih sangat sederhana yakni white
board (papan tulis), mushaf Al-Qur’an, pengeras suara
Toa, hanya beberapa Ustadzah (pemateri/penceramah) yang menggunakan laptop
dan LCD proyector milik pribadinya , hasil wawancara dengan Ibu Dra Hajjah
Iis Rosmiati (Ketua ) dan Ibu Mimin Mintarsih (seksi pengajian) majlis taklim
Ar-Ridwan, tanggal 6 Juli 2020.
Untuk
memelihara semangat jamaah (anggota) majlis taklim dalam hal mengikuti
kegiatan-kegiatan majlis taklim Ar-Ridwan ini , sekaligus untuk memasarkan (marketing)
majlis taklim ini di tengah- tengah masyarakat
maka dibuat program pengadaan
pakaian seragam (uniform) jamaah majlis taklim dan pada setiap kali
penyelenggaraan kegiatan disediakan makanan dan minuman ringan , demikian
dinyatakan Ibu Dra.Hj. Iis Rosmiati (Ketua) dan Ibu Dedah Jubaedah (Seksi
konsumsi) majlis taklim Ar-Ridwan, tanggal 10 Juli 2020.
Majlis
taklim Ar- Ridwan sebagai lembaga (organisasi) kelompok masyarakat yang
mendalami ajaran-ajaran agama Islam, diikuti oleh jamaah (anggota) yang dari
segi batasan usia (umur), latar belakang pendidikan dan mata pencaharian
(ekonomi) beragam. Untuk memperkuat
keterangan ini, penulis telah menyebarkan angket sejumlah 50 buah dan hanya 40
buah yang dikembalikan dengan jawaban yang lengkap. Angket dimaksud untuk
mengetahui identitas responden dan tanggapannya terhadap kegiatan majlis taklim
Ar-Ridwan secara menyeluruh.
Tabel 1
Identitas
Jamaah (anggota)
|
No. |
Usia |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
16 -25 tahun |
8 |
20 % |
|
2 |
26-35 tahun |
12 |
30 % |
|
3 |
36- 45 tahun |
11 |
27,5 % |
|
4 |
46- 55 tahun |
5 |
12,5 % |
|
5 |
56- ke atas |
4 |
10 % |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Dari
segi batasan usia (umur) jamaah (anggota) majlis taklim ini ternyata cukup
beragam, mulai dari usia 16 tahun sampai dengan usia 56 tahun ke atas. Hal itu
menunjukkan bahwa jamaah (anggota) majlis taklim ini ada yang masih usia
pelajar SLTA (Madrasah Aliyah). Alasan mereka antara lain untuk melaksanakan
tugas dari Pesantren (Pesantren Persatuan Islam No.19 Bentar Kota Wetan) tempat
mereka belajar yang kebetulan berdekatan dengan majlis taklim ini, selain untuk
memperdalam ilmu agama Islam dan untuk latihan secara langsung dalam hal pengelolaan
majlis taklim.
Table
2
Pekerjaan
Jamaah (anggota)
|
No |
Pekerjaan |
Frekwensi |
Presentasi |
|
1 |
Pelajar |
2 |
5 % |
|
2 |
Pedagang |
6 |
15 % |
|
3 |
Pekerja Profesi Guru dan buruh |
5 |
12,5 % |
|
4 |
Ibu Rumah Tangga |
23 |
57,5 % |
|
5 |
Pegawai Negeri |
4 |
10 % |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Dari segi latar belakang mata pencaharian
atau pekerjaan sebagian besar adalah Ibu Rumah Tangga, selebihnya adalah
pedagang (baik di pasar induk Ciawitali maupun di warung atau toko miliknya
sendiri), Guru Non PNS di Pesantren Persatuan Islam No. 19 Bentar dan di sekolah serta Pelajar.
Tabel 3
Pendidikan Jamaah
(anggota)
|
No. |
Jenjang Pendidikan |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
Pesantren |
9 |
22,5 % |
|
2 |
Tidak tamat SD/Ibtidaiyah |
2 |
5 % |
|
3 |
SD /Ibtidaiyah |
3 |
7,5 % |
|
4 |
SLTP / Tsanawiyah |
5 |
12,5 % |
|
5 |
SLTA / Aliyah |
18 |
45 % |
|
6 |
Universitas / Perguruan Tinggi |
3 |
7,5 % |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Dari
segi latar belakang pendidikan jamaah (anggota) lebih banyak yang berpendidikan
tamatan/alumni SLTA/ Aliyah karenanya mereka cukup mampu berpikir kritis dan
mampu mengikuti kegiatan pemberdayaan perempuan. Demikian pula halnya dengan yang berlatar
belakang pendidikan pesantren , mereka cukup mampu mengembangkan pemahaman
ajaran agama dalam kontek pemberdayaan perempuan.
Tabel
4
Kehadiran
Mengikuti Kegiatan
|
No. |
Kehadiran |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
Seminggu sekali |
30 |
75 % |
|
2 |
Dua minggu sekali |
7 |
17,5 % |
|
3 |
Tiga minggu sekali |
3 |
7,5 % |
|
4 |
Empat minggu sekali |
- |
- |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Jamaah
(anggota) yang menghadiri kegiatan majlis taklim ini lebih banyak yang tetap
secara konsisten (istiqomah) karena kegiatannya yang bersifat kegiatan
rutin mingguan. Tetapi ada pula yang tidak secara tetap mengikutinya karena
berbenturan dengan kegiatan lain (mengajar dan atau terjadwal dalam kegiatan
pesantren).
Tabel
5
Manfaat
Mengikuti Kegiatan Majlis Taklim
|
No. |
Manfaat |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
Sangat Bermanfaat |
30 |
75 % |
|
2 |
Bermanfaat |
7 |
17,5 % |
|
3 |
Cukup Bermanfaat |
3 |
7,5 % |
|
4 |
Kurang Bermanfaat |
- |
- |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Jamaah
(anggota) majlis taklim sebagian besar menyatakan bahwa kehadiran mereka
mengikuti kegiatan majlis taklim itu sangat bermanfaat, selain untuk mendalami
ajaran agama Islam dengan pemahaman yang makin luas dan tidak sempit, juga
sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengamalan ibadah sehari-hari dan untuk pemberdayaan ekonomi jamaah
(anggota) karena ada kegiatan tambahan berupa arisan jamaah (anggota) serta
tabungan ibadah qurban dalam menghadapi iedul ad-ha (ied qurban) .
Tabel
6
Jenis
Kegiatan Majlis Talim Yang Disukai
|
No. |
Jenis Kegiatan Majlis Taklim |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
Membaca Al Qur’an bersama |
14 |
35 % |
|
2 |
Mengikuti Kajian Tafsir |
6 |
15 % |
|
3 |
Mendengarkan Ceramah Aqidah –Akhlaq (perempuan) |
7 |
17,5 % |
|
4 |
Mengikuti Ceramah Tanya Jawab Fiqh |
10 |
25 % |
|
5 |
Mengikuti Arisan Jamaah dan Tabungan Qurban |
3 |
7,5% |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Kegiatan
majlis taklim yang paling disukai jamaah (anggota) adalah membaca Al Qur’an bersama /berjamaah
(35 %) yang biasanya dilaksanakan sebelum Ustadzah Penceramah/Pengajar memulai
penyampaian materi bahasan. Mengikuti
ceramah dan Tanya jawab persoalan Fiqh Perempuan pun menjadi kegiatan yang
disukai jamaah (25 %) , selain mendengarkan ceramah Aqidah- Akhlaq Perempuan
(17,5 %) . Selanjutnya Mengikuti Kajian Tafsir (15 %) dan selebihnya mengikuti Arisan Jamaah dan Tabungan Qurban
(7,5 %).
Tabel
7
Materi
Kajian Yang Disukai
|
No. |
Materi Kajian |
Frekwensi |
Persentase |
|
1 |
Agama semata |
13 |
32,5 % % |
|
2 |
Agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan
(kesehatan, dan ekonomi ) |
25 |
62,5 % |
|
3 |
Program Pembangunan Daerah/Nasional |
2 |
5 % |
|
|
Jumlah |
40 |
100 % |
Materi kajian yang
disampaikan di kegiatan majlis taklim yang paling disukai oleh jamaah (anggota)
adalah materi agama yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan (terutama di
bidang kesehatan dan ekonomi), hal itu dinyatakan dalam jawaban responden yang
lebih dari separuh total jamaah (62,5 %).
Berbanding terbalik dengan itu, yang paling tidak disukai jika ada
penyampaian materi program pembangunan
sebagai materi suplemen (tambahan, sisipan) yang disampaikan oleh tokoh/aparat
pemerintahan setempat (aparat dari Kantor kelurahan).
PENUTUP
Sepanjang pemaparan
hasil penelitian dan pembahasannya di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
majlis taklim sebagai lembaga atau institusi kelompok masyarakat yang dibentuk
untuk mendalami ajaran agama telah mengaplikasikan (menerapkan) manajemen
dakwah. Manajemen dakwah yang
diterapkannya meliputi unsur-unsur
manajemen yaitu man power (tenaga personalia pengurus dan
jamaah/anggota), material (bahan kajian pendalaman ajaran agama yang
disampaikan), money (keuangan /pendanaan), machine (peralatan dan
mesin yang digunakan), method
(cara yang digunakan), market (pemasaran agar diminati) meskipun dalam
batas yang sederhana.
Dalam
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya, majlis taklim telah merencanakan
penjadwalan kegiatan, menetapkan susunan
kepengurusan, menggerakkan jenis-jenis kegiatan yang dilengkapi dengan
materi-materi (bahan kajian) yang hendak disampaikan kepada jamaah (anggota),
disertai dengan pengendalian kegiatan
untuk agar tetap diminati untuk diikuti/dihadiri oleh jamaah (anggota)
sekaligus agar mampu ditawarkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat melalui
penyediaan pakaian seragaman bagi jamaah (anggota) dan penyediaan
makanan-minuman ringan setiap kali kegiatan digelar/diselenggarakan. Selain itu
juga disampaikan materi kajian berupa ajaran agama yang berkaitan dengan
pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan dan ekonomi, yang ditindak lanjuti
dengan arisan jamaah dan tabungan ibadah qurban.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Amrullah. “Strategi Dakwah di Tengah Era
Reformasi Menuju Indonesia Baru dalam Memasuki Abad ke-21” , Makalah disampaikan dalam “Sarasehan Nasional : Menggagas
Strategi Dakwah Menuju Indonesia Baru” Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 21 April
1999
Ahmad Safei, Agus. Sosiologi Dakwah.
Bandung : Arsad Press. 2012
A.Hasymi . Dustur Dakwah Menurut Al Qur’an. Jakarta : Bulan
Bintang. 1984
Arifin, H.M. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi.
Jakarta : Bumi Aksara. 2000
Barrett, Richard. “Vocational Business : Training, Developing and
Motivating People”, Business &
Economicus. New Jersey : Prantice Hall. 2003
Griffin, Ricky W. Business. 8th
Edition. New Jersey : Prantice Hall. 2006
Mansur Burhan, Imang. Pokok-pokok Pikiran tentang
Zakat dalam Pemberdayaan Ummat, dalam Jurnal Al-Tadbir : Transformasi
al-Islam Dalam Pranata dan Pembangunan. Bandung : Pusat Pengkajian Islam
dan Pranata IAIN Sunan Gunung Djati Bandung , 1998.
M.Manulang. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta :
Ghalia Indonesia. 1981
Poerwadarminta, WJS. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Bandung : Hasta. 1981.
Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan. Kompetensi
dan Praktiknya. Jakarta : Bumi Aksara. 2004
Yahya Omar, Toha. Ilmu Dakwah. Jakarta :
Wijaya. 1979
keren pak
BalasHapus